Alternatif Pengganti LPG

Dr. Eng. Mochamad Syamsiro, S.T., M.Eng

Oleh : Dr. Eng. Mochamad Syamsiro, S.T., M.Eng. , peneliti, dan pakar di bidang teknologi konversi energi, Akademisi Universitas Janabadra Yogyakarta

BELUM lama ini Pertamina menaikkan harga LPG non subsidi 12 kg dan 5,5 kg dari sebelumnya Rp. 192.000,- menjadi Rp. 228.000,- untuk tabung 12 kg dan dari Rp. 90.000,- menjadi Rp. 107.000,- untuk tabung 5,5 kg berlaku di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (KR, 20/04/2026). Beberapa wilayah lain harganya berbeda sesuai dengan keputusan dari Pertamina melalui anak perusahaannya PT. Pertamina Patra Niaga. Hal ini tentunya sebagai dampak dari Perang Iran dan Israel-AS yang tak kunjung berakhir sejak akhir Februari lalu. Bersyukurnya harga LPG subsidi tidak ada kenaikkan sehingga kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah masih dapat menikmati LPG dengan harga yang sama. Sebagaimana kita ketahui, LPG banyak digunakan untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari seperti memasak, pemanas air untuk mandi, restoran, UMKM makanan dan lain-lain. Bahkan LPG juga digunakan di industri untuk berbagai kebutuhan proses yang membutuhkan sumber panas seeprti industri petrokimia. Namun demikian, kenaikan harga LPG non subsidi sedikit banyak akan tetap mempengaruhi aktivitas ekonomi di masyarakat, karena kemungkinan akan ada beberapa komoditi yang akan mengalami penyesuaian harga seiring dengan kenaikkan ini. Kalau sampai hal ini terjadi, maka masyarakat kelas bawah yang akan merasakan dampaknya secara ekonomi akibat kenaikkan harga barang. Untuk itulah perlu adanya upaya-upaya untuk mencari alternatif pengganti LPG yang sekiranya dapat digunakan baik skala kecil maupun besar sehingga dapat meminimalisir dampaknya pada kenaikkan harga barang-barang di masyarakat. Alternatif Pengganti LPG Berbagai macam alternatif pengganti LPG sebagai bahan bakar kompor untuk memasak dapat digunakan menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Sebagaimana jaman dahulu sebelum ada LPG dan minyak tanah, kita dapat menggunakan kayu bakar untuk memasak dengan menggunakan tungku. Saat ini banyak riset-riset pengembangan tungku yang lebih bersih dan moderen untuk dapat digunakan dalam mengatasi keterbatasan pasokan LPG. Yang lebih maju lagi, saat ini banyak dikembangkan kompor biomassa dengan bahan bakar pellet kayu (wood pellet) yang lebih ramah lingkungan dan asap yang minimal. Pellet kayu mempunyai keunggulan dalam hal kepadatan energinya karena sudah dipress dengan tekanan tinggi, ditambah lagi ukuran yang lebih seragam sehingga membuat proses pembakaran lebih terkontrol dan stabil. Selain itu juga banyak dikembangkan kompor dengan bahan bakar minyak jelantah dan minyak hasil pirolisis plastik. Kompor seperti ini dapat digunakan di industri kecil makanan, UMKM yang membutuhkan proses pemanasan serta untuk pengeringan berbagai macam produk pertanian. Penulis telah banyak melakukan riset pengembangan kompor ini dan telah diujikan performanya untuk mendapatkan efisiensi terbaiknya. Penggunaan LPG untuk pemanas air mandi dapat digantikan dengan menggunakan pemanas surya/matahari (solar water heater) yang dapat diperoleh dengan gratis. Indonesia sebagai negara tropiss tentunya kaya akan potensi energi dari matahari ini, karena panas dapat diperoleh sepanjang tahun tanpa mengalami musim dingin/salju seperti di negara-negara sub-tropis. Saat ini juga sudah banyak beredar di pasaran produk-produk pemanas air tenaga surya dengan efisiensi tinggi dalam penyerapan panasnya. DME Untuk LPG Masa Depan Untuk skala yang lebih besar dan masif, perlu ada terobosan pengganti LPG yang karakteristiknya mirip dan dapat menggantikan peran LPG tanpa perlu mengganti peralatan di dapur atau di industri. Salah satu terobosan yang dapat dikembangkan adalah dengan memproduksi dimetil eter (DME) atau juga dikenal sebagai metoksimetana. DME adalah senyawa organik berbentuk gas yang tidak berwarna dan tidak berbau serta dapat terurai dengan mudah. Yang menarik dari DME ini adalah dapat diproduksi secara sintetis dari batubara dan biomassa. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Indonesia adalah termasuk produsen batubara terbesar ketiga dunia, sehingga ini menjadi peluang besar untuk bagaimana mengkonversi sebagian batubara yang kita miliki menjadi DME sebagai pengganti LPG. Begitu juga dengan biomassa, sebagai negara tropis, potensi biomassa kita sangat melimpah dan sebagiannya dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan DME. Tentunya karena ini skala besar, maka perlu keterlibatan industri dan pemerintah dengan membuat kebijakan yang memperkuat pengembangan industri DME dari batubara dan biomassa. (Dr. Eng. Mochamad Syamsiro, Peneliti Energi Terbarukan dan Dosen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Janabadra)

Sumber: https://www.krjogja.com/opini/1247401523/alternatif-pengganti-lpg