Ketika Desa Kehilangan Petaninya

Dr. Untoro Hariadi, M.Si.
Oleh : Dr. Untoro Hariadi, M.Si. akademisi Universitas Janabadra Yogyakarta, peneliti, serta tokoh publik asal Yogyakarta.
Dulu, pagi di desa dimulai dari suara cangkul dan bau tanah basah. Sebelum matahari tinggi, orang-orang sudah turun ke sawah. Kini di banyak desa, pagi dimulai dari suara motor. Anak-anak muda berangkat ke pabrik, ke kota, atau ke tempat lain yang jauh dari lumpur. Sawah masih terhampar, tetapi orang yang menggarapnya makin sedikit dan makin tua.
Kita sering menyebut perubahan ini kemajuan. Mungkin memang begitu. Namun kemajuan yang tidak pernah ditanya harganya patut dicurigai. Maka pertanyaannya sederhana: apa yang sebenarnya hilang ketika desa kehilangan petaninya?
Sawah Jadi Sunyi
Mari mulai dari kenyataan yang paling dekat. Di banyak desa, petani yang masih aktif kebanyakan sudah berusia lanjut. Anak-anak mereka merantau, sebagian kuliah lalu tidak kembali, sebagian bekerja di pabrik atau toko. Ada yang jadi pengemudi ojek daring. Hampir tidak ada yang pulang untuk mengambil alih sawah orang tuanya.
Mudah sekali menyalahkan anak muda. Kita bilang mereka malas, gengsi, atau tidak cinta tanah kelahiran. Tetapi coba dengar apa yang sering diucapkan orang tua petani kepada anaknya: “Jangan jadi petani seperti Bapak.” Kalimat itu keluar dari rasa sayang, bukan dari kebencian pada sawah. Mereka tahu bagaimana rasanya bekerja keras, gagal panen, dan harga jual yang jatuh tepat ketika padi menguning. Mereka tahu pupuk makin mahal dan hasil kerja setahun bisa habis hanya untuk menutup modal.
Di sinilah letak kritiknya. Petani tidak sedang ditinggalkan karena pertanian tidak penting. Mereka ditinggalkan karena kita membiarkan pekerjaan paling penting bagi perut manusia menjadi pekerjaan yang paling tidak dihargai. Kita ingin beras murah, tetapi tidak pernah bertanya siapa yang menanggung kemurahan itu. Jawabannya: petani, dengan tubuh dan masa depan anak-anaknya.
Ada sisi filosofis yang sering terlewat. Orang disebut bebas memilih pekerjaan. Tetapi apakah itu pilihan jika satu jalan sengaja dibuat sempit dan jalan lain dibuat lebar? Anak muda yang pergi dari desa tidak sepenuhnya memilih. Mereka didorong oleh keadaan, lalu keadaan itu disebut pilihan pribadi. Dengan cara itu, tanggung jawab negara dan pasar diam-diam pindah ke pundak individu.
Tanah Jadi Komoditas
Persoalan kedua lebih keras: tanahnya sendiri berubah. Sawah yang dulu menghijau kini menjadi perumahan, gudang, jalan, atau kawasan industri. Pemandangan ini begitu biasa sampai kita berhenti merasa heran. Satu hari ada papan bertuliskan “Dijual”, beberapa bulan kemudian berdiri pagar tembok, dan tahun berikutnya sawah itu tinggal kenangan.
Keluarga petani yang menjual lahannya sering tidak punya banyak pilihan. Ada kebutuhan mendesak, biaya sekolah, utang, atau tawaran harga yang terdengar besar sekali. Uang dalam jumlah besar yang datang sekaligus mudah membuat orang merasa kaya. Padahal sawah memberi hasil setiap musim, sedangkan uang hasil jual tanah hanya datang sekali. Bila sudah habis, tidak ada lagi yang tersisa, termasuk pekerjaan yang dulu bisa diwariskan.
Di titik ini, cara kita memandang tanah ikut berubah. Bagi petani, tanah adalah tempat hidup. Ia dirawat, diberi nama, dan diceritakan dari generasi ke generasi. Bagi pasar, tanah adalah aset, angka di atas kertas, barang yang nilainya naik jika diubah fungsinya. Dua cara pandang ini tidak sama, dan yang kedua hampir selalu menang karena membawa uang lebih cepat.
Orang bijak sering berkata bahwa tanah tidak bisa dicetak ulang. Sekali sawah beririgasi baik berubah menjadi beton, ia hampir mustahil kembali. Butuh puluhan, bahkan ratusan tahun bagi manusia untuk membentuk tanah subur beserta sistem airnya. Kita menghancurkannya dalam hitungan bulan, lalu mengira bisa menggantinya dengan impor atau teknologi.
Para petani yang kehilangan lahan pun berganti peran. Ada yang jadi buruh bangunan di atas bekas sawahnya sendiri, ada yang jadi penjaga gudang di tanah yang dulu ia tanami. Ironi seperti ini tidak lucu. Ia menunjukkan bahwa perubahan pekerjaan sering bukan kenaikan derajat, melainkan kehilangan kendali: dari orang yang punya tanah menjadi orang yang bekerja untuk tanah milik orang lain.
Tali Ingatan Jadi Putus
Hal yang paling sulit dihitung adalah apa yang putus di dalam diri. Desa bukan sekadar kumpulan rumah. Ia adalah cara hidup yang dibentuk oleh irama bertani. Ada waktu tanam dan waktu panen, ada gotong royong, ada selamatan sebelum menanam dan syukuran setelah panen. Ada pengetahuan tentang membaca cuaca, tentang kapan hama datang, tentang benih mana yang cocok untuk tanah mana. Pengetahuan ini tidak ditulis di buku. Ia hidup di kepala dan tangan para petani, dan ikut hilang bersama mereka.
Bayangkan seorang anak desa yang tumbuh tanpa pernah menginjak lumpur sawah. Ia makan nasi setiap hari, tetapi tidak tahu berapa lama padi tumbuh, atau betapa rapuhnya tanaman itu di hadapan kemarau. Nasi baginya hanya sesuatu yang tiba di piring, bukan hasil kerja panjang dan doa orang lain. Pelan-pelan, rasa syukur memudar karena tidak ada lagi yang bisa disyukuri secara nyata. Makanan berubah menjadi barang, dan barang bisa dibeli di mana saja.
Kondisi sepertiini, bisa kita sebut sebagai sebuah keterasingan: manusia terpisah dari hasil kerjanya, dari alam, bahkan dari dirinya sendiri. Desa yang kehilangan petani sedang mengalaminya. Ia tetap bernama desa, tetapi kehilangan alasan untuk disebut desa. Ia menjadi tempat tidur bagi orang yang bekerja di tempat lain, sunyi di siang hari dan ramai hanya ketika hari libur.
Ada pula soal yang lebih besar, yaitu kedaulatan. Bangsa yang tidak lagi memiliki orang yang mau menanam pada akhirnya menggantungkan perutnya pada pihak lain. Kita bangga dengan gedung tinggi dan jalan layang, tetapi lupa bahwa semua itu tidak mengenyangkan jika tidak ada yang menanam padi. Ketika petani habis, yang runtuh bukan hanya desa. Kemampuan kita untuk berdiri di atas kaki sendiri pun ikut goyah.
Tentu tidak adil jika semua ini dibebankan pada para petani atau anak muda yang pergi. Mereka hanya menjawab keadaan. Yang perlu digugat adalah cara kita menata kehidupan: siapa yang kita beri penghargaan, siapa yang kita biarkan kelelahan, dan apa yang kita anggap penting.
Penutup
Jika suatu hari tidak ada lagi yang mau menanam, siapa yang akan kita salahkan? Jika tanah sudah menjadi beton dan sawah hanya tersisa di foto, apakah kita masih berhak menyebut diri bangsa agraris? Dan jika anak-anak kita tumbuh tanpa tahu dari mana nasi berasal, apakah kita sedang mewariskan kemajuan, atau justru kelupaan?
Mungkin yang hilang bukan hanya petani, tetapi cara kita menghormati mereka. Desa tidak mati ketika penduduknya pergi. Desa mati ketika orang yang tinggal di dalamnya tidak lagi tahu untuk apa ia bertahan.
Barangkali sudah waktunya kita bertanya pada diri sendiri, di piring makan kita masing-masing: siapa yang menanam ini, dan apa yang sudah kita berikan kepadanya?
*)Penulis adalah alumni Filsafat UGM, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Janabadra


Kampus 1 : Jl. Tentara Rakyat Mataram No. 55-57 Yogyakarta 55231

