Siapa yang Akan Memberi Makan Indonesia?

Dr. Untoro Hariadi, M.Si.
Oleh : Dr. Untoro Hariadi, M.Si. akademisi Universitas Janabadra Yogyakarta, peneliti, serta tokoh publik asal Yogyakarta.
Indonesia membutuhkan pangan setiap hari. Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan besar tentang masa depan pertanian: siapa yang akan menghasilkan pangan untuk Indonesia ketika jumlah penduduk terus bertambah, lahan pertanian menghadapi tekanan, iklim berubah, teknologi berkembang cepat, dan semakin sedikit generasi muda yang melihat pertanian sebagai masa depan?
Selama ini persoalan pangan sering dibicarakan melalui angka produksi, luas panen, impor, harga, produktivitas, dan teknologi. Semua itu penting. Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar: siapa manusia yang akan bekerja di balik seluruh sistem pangan tersebut? Sebab pangan tidak lahir dari sistem yang abstrak. Pangan lahir dari tanah, air, benih, pengetahuan, kerja manusia, dan kehidupan petani.
Karena itu, membicarakan masa depan pangan Indonesia pada akhirnya adalah membicarakan masa depan petani dan pertanian itu sendiri.
Siapa yang Akan Menjadi Petani?
Indonesia masih memiliki jutaan rumah tangga dan usaha pertanian. Namun, struktur petani sedang berubah. Regenerasi petani menjadi persoalan penting karena banyak anak muda tidak lagi melihat pertanian sebagai pekerjaan yang menjanjikan kehidupan. Mereka lebih tertarik pada pekerjaan yang dianggap memberikan pendapatan lebih pasti, status sosial lebih baik, atau peluang hidup yang lebih luas.
Persoalannya bukan semata-mata apakah anak muda mau menjadi petani atau tidak. Yang lebih penting adalah mengapa menjadi petani semakin sulit dibayangkan sebagai masa depan kehidupan. Jika pertanian dipandang sebagai pekerjaan berat, pendapatan tidak pasti, bergantung pada cuaca, harga pasar, dan luas lahan yang terbatas, maka sulit mengharapkan generasi muda memilihnya secara sukarela.
Karena itu, regenerasi petani tidak cukup dilakukan dengan mengajarkan teknologi pertanian kepada anak muda. Yang perlu dibangun adalah masa depan pertanian yang membuat mereka dapat membayangkan kehidupan yang layak melalui pertanian. Pertanian harus menjadi ruang kehidupan, pengetahuan, kewirausahaan, teknologi, kreativitas, dan kebanggaan.
Masa depan pangan dengan demikian sangat bergantung pada apakah Indonesia mampu menciptakan masa depan yang layak bagi orang yang akan menghasilkan pangan.
Tanah dan Pangan
Di tengah pembicaraan mengenai kecerdasan buatan, robot, drone, sensor, dan pertanian presisi, kita mudah melupakan bahwa pangan tetap bermula dari tanah. Teknologi dapat membantu mengukur kondisi tanah, memperkirakan cuaca, mengatur irigasi, atau meningkatkan efisiensi produksi. Tetapi teknologi tidak menghapus kebutuhan terhadap tanah sebagai ruang kehidupan pertanian.
Masalahnya, tanah pertanian menghadapi tekanan dari berbagai arah. Alih fungsi lahan, fragmentasi kepemilikan, degradasi tanah, perubahan iklim, dan persaingan penggunaan ruang membuat pertanian semakin sulit mempertahankan basis ekologisnya. Ketika tanah kehilangan kualitasnya, persoalan yang muncul bukan hanya berkurangnya produksi, tetapi juga hilangnya kemungkinan bagi generasi berikutnya untuk menjadi petani.
Karena itu, menjaga tanah berarti menjaga masa depan pangan. Tanah bukan sekadar aset ekonomi. Bagi petani, tanah adalah tempat bekerja, belajar, membangun keluarga, dan mempertahankan kehidupan. Kehilangan tanah berarti kehilangan salah satu dasar kehidupan pertanian.
Petani Kecil
Sebagian besar pertanian Indonesia masih dijalankan oleh petani dengan skala usaha yang relatif kecil. Dalam cara berpikir pembangunan modern, skala kecil sering dianggap sebagai persoalan yang harus diperbesar. Produksi harus ditingkatkan, usaha harus diperluas, teknologi harus dimodernisasi, dan pertanian harus dibuat lebih efisien.
Namun, persoalannya tidak sesederhana besar atau kecil. Petani kecil memiliki pengetahuan, pengalaman, hubungan sosial, dan kemampuan beradaptasi yang tidak selalu dapat diukur melalui luas lahan atau jumlah produksi. Mereka mengetahui perubahan tanah, musim, air, tanaman, dan lingkungan melalui pengalaman panjang.
Karena itu, transformasi pertanian tidak seharusnya menjadikan petani kecil sekadar objek yang harus “diperbaiki”. Yang diperlukan adalah memperkuat kemampuan mereka untuk mengembangkan usaha, mengakses teknologi, memperoleh informasi, masuk ke pasar, dan tetap memiliki kendali atas keputusan pertaniannya.
Teknologi
Teknologi digital, kecerdasan buatan, Internet of Things, drone, sensor, dan berbagai platform pertanian akan semakin masuk ke kehidupan petani. Perkembangan ini dapat membantu meningkatkan produktivitas, efisiensi, ketepatan keputusan, dan akses terhadap informasi.
Tetapi teknologi juga membawa pertanyaan baru: apakah teknologi akan membantu petani mengambil keputusan, atau justru mengambil keputusan untuk petani?
Jika teknologi hanya menjadi alat, petani tetap menjadi subjek. Namun, jika keputusan semakin ditentukan oleh algoritma, aplikasi, perusahaan teknologi, atau data yang tidak dipahami petani, maka posisi petani dapat berubah. Petani tetap bekerja di lahan, tetapi pengetahuan dan keputusan penting tentang pertanian berada di luar dirinya.
Karena itu, pertanian digital seharusnya bukan pertanian yang mengurangi peran manusia, melainkan pertanian yang memperkuat kemampuan manusia. Teknologi harus membantu petani berpikir lebih baik, bukan menggantikan kemampuan petani untuk berpikir.
Pengetahuan
Pertanian pada dasarnya adalah kegiatan pengetahuan. Petani tidak hanya bekerja dengan tangan, tetapi juga membaca alam, mengenali perubahan musim, memilih benih, memahami tanah, memperkirakan waktu tanam, mengelola air, dan membaca perilaku pasar.
Masuknya ilmu pengetahuan modern dan teknologi digital tentu memperkaya pengetahuan tersebut. Masalah muncul ketika pengetahuan baru dianggap selalu lebih benar daripada pengetahuan yang telah hidup di masyarakat. Jika hal itu terjadi, proses modernisasi dapat berubah menjadi penghilangan pengetahuan petani.
Karena itu, masa depan pertanian membutuhkan hubungan baru antara pengetahuan ilmiah, teknologi, dan pengetahuan lokal. Bukan mengganti satu dengan yang lain, tetapi mempertemukannya. Petani tidak hanya menjadi penerima pengetahuan. Mereka juga harus menjadi penghasil pengetahuan.
Dalam pertanian digital, persoalan ini menjadi semakin penting karena data adalah bentuk pengetahuan sekaligus sumber kekuasaan. Siapa yang mengumpulkan data, menguasai data, mengolahnya, dan menentukan bagaimana data digunakan, memiliki pengaruh besar terhadap masa depan pertanian.
Peran Negara
Negara memiliki peran penting dalam menjaga pangan: melindungi lahan, membangun infrastruktur, menyediakan kebijakan, memperkuat penelitian, menjaga akses petani terhadap sarana produksi, membuka pasar, dan memastikan sistem pangan tidak mudah terguncang.
Namun, negara tidak dapat memberi makan Indonesia sendirian. Negara dapat membuat kebijakan, tetapi tidak menanam padi. Negara dapat membangun irigasi, tetapi tidak menggantikan petani yang mengelola sawah. Negara dapat menyediakan teknologi, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman manusia yang hidup bersama lahannya.
Karena itu, kebijakan pertanian harus berangkat dari kehidupan nyata petani. Pembangunan pertanian tidak cukup dinilai dari berapa banyak program yang dibuat, tetapi dari apakah kehidupan orang yang bekerja di pertanian menjadi lebih baik.
Peran Pasar
Pasar diperlukan karena petani membutuhkan tempat untuk menjual hasil pertaniannya. Tetapi pasar tidak selalu bekerja dengan kepentingan kehidupan petani sebagai pusat. Harga, biaya produksi, distribusi, dan posisi tawar dapat membuat petani berada dalam posisi yang lemah.
Karena itu, membangun pertanian berarti juga membangun sistem pasar yang memungkinkan petani memperoleh nilai yang layak dari pekerjaannya. Hilirisasi, koperasi, kelembagaan petani, teknologi pemasaran, dan akses informasi dapat menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
Pertanian tidak akan memiliki masa depan jika orang yang menghasilkan pangan terus-menerus berada dalam posisi ekonomi yang tidak menguntungkan.
Peran Konsumen
Pangan akhirnya sampai kepada konsumen. Karena itu, masa depan pertanian juga ditentukan oleh cara masyarakat memandang pangan. Pangan sering dianggap sekadar barang yang harus tersedia murah dan mudah diperoleh. Padahal, di balik setiap makanan terdapat tanah, air, energi, pengetahuan, kerja, dan kehidupan manusia.
Konsumen juga memiliki tanggung jawab untuk memahami dari mana pangan berasal, bagaimana pangan diproduksi, dan bagaimana pilihan konsumsi mereka memengaruhi petani serta lingkungan. Dengan demikian, hubungan antara petani dan konsumen tidak berhenti pada transaksi jual beli. Keduanya berada dalam satu sistem kehidupan.
Ukuran
Ketahanan pangan tidak cukup diukur dari apakah Indonesia memiliki cukup pangan secara kuantitatif. Kita juga perlu bertanya: pangan seperti apa yang tersedia, siapa yang memproduksinya, bagaimana pangan itu diproduksi, dan apakah sistem produksinya dapat bertahan dalam jangka panjang.
Pangan yang cukup tetapi dihasilkan melalui kerusakan tanah, ketergantungan teknologi, hilangnya pengetahuan lokal, atau kehidupan petani yang semakin tidak layak bukanlah masa depan pertanian yang utuh.
Karena itu, persoalan pangan harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas: kehidupan manusia, keberlanjutan lingkungan, pengetahuan, ekonomi, teknologi, dan keadilan antargenerasi.
Penutup
Pada akhirnya, tidak ada satu pihak yang dapat memberi makan Indonesia sendirian. Petani membutuhkan tanah dan air. Tanah membutuhkan perlindungan. Petani membutuhkan pengetahuan dan teknologi. Teknologi membutuhkan manusia yang mampu menggunakannya secara kritis. Petani membutuhkan pasar yang adil. Pasar membutuhkan kebijakan yang melindungi kehidupan. Konsumen membutuhkan pangan, tetapi juga perlu menghargai proses panjang yang membuat pangan sampai ke meja mereka.
Karena itu, masa depan pangan Indonesia adalah tanggung jawab sebuah jaringan kehidupan. Di dalam jaringan tersebut, petani tetap memiliki posisi yang sangat penting karena di sanalah pangan pertama kali diubah dari potensi alam menjadi kehidupan manusia.
Pertanyaan terbesar tentang pangan Indonesia bukan hanya apakah kita mampu menghasilkan pangan yang cukup. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah kita mampu menciptakan kehidupan yang membuat orang ingin terus menjadi petani?
Indonesia tidak hanya membutuhkan pangan. Indonesia membutuhkan orang-orang yang bersedia terus menghasilkan pangan. Jika kehidupan petani dijaga, pertanian memiliki masa depan. Jika pertanian memiliki masa depan, pangan memiliki masa depan.
Dan pada akhirnya, pertanyaan tentang siapa yang akan memberi makan Indonesia adalah pertanyaan tentang kehidupan seperti apa yang ingin kita bangun untuk mereka yang memberi makan Indonesia.
*)Penulis adalah alumni Filsafat UGM, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Janabadra


Kampus 1 : Jl. Tentara Rakyat Mataram No. 55-57 Yogyakarta 55231
