Petani di Antara Negara, Pasar, dan Teknologi

Dr. Untoro Hariadi, M.Si.
Oleh : Dr. Untoro Hariadi, M.Si. akademisi Universitas Janabadra Yogyakarta, peneliti, serta tokoh publik asal Yogyakarta.
Petani selalu berdiri di persimpangan. Negara menulis kebijakan, pasar menetapkan harga, teknologi mengubah cara tangan bekerja. Ketiganya bukan tamu baru di ladang; yang baru adalah jangkauannya. Negara kini menyentuh hingga pematang lewat program pembangunan, pasar tersambung dengan jaringan dagang dunia, dan teknologi berlari lebih cepat daripada musim tanam. Di tengah laju itu, petani terus diminta menyesuaikan diri, seakan beradaptasi adalah satu-satunya keutamaan yang dituntut darinya.
Jarang kita bertanya: siapa sesungguhnya yang menentukan arah perubahan ini, dan di mana petani berdiri di dalamnya? Pertanyaan itu penting sebab petani bukan sekadar pelaksana kebijakan, peserta pasar, atau pengguna alat. Ia manusia yang berpengetahuan, mengambil keputusan, dan menanggung risiko demi hidupnya; ia bukan roda kecil dalam mesin besar bernama pembangunan. Bila pembangunan hanya melayani negara, pasar, dan teknologi, kita mungkin berhasil mengubah pertanian tanpa pernah memperbaiki hidup orang yang menjalaninya.
Negara dan Ilusi Keberhasilan
Tanpa negara, petani menghadapi persoalan yang tak sanggup mereka selesaikan sendirian: infrastruktur yang terbatas, akses pasar yang timpang. Negara menyusun arah pembangunan, kebijakan pangan, penelitian, distribusi sarana produksi, hingga perlindungan. Namun kehadiran belum tentu keberpihakan. Program dapat mencapai target administratif tanpa menyentuh hidup mereka yang bekerja di lapangan. Produksi naik, pendapatan tetap goyah. Teknologi maju, ketergantungan pada sarana yang harus dibeli kian dalam. Infrastruktur bertambah, tetapi manfaatnya belum tentu terbagi rata.
Maka kita perlu membedakan dua hal: membangun sektor pertanian dan membangun kehidupan melalui pertanian. Keduanya bertalian, tetapi tidak identik. Sensus Pertanian 2023 mencatat sekitar 17,25 juta petani gurem, yakni mereka yang mengusahakan lahan kurang dari 0,5 hektare. Bagi mereka, produktivitas saja tak pernah cukup tanpa kepastian lahan, harga yang layak, pembiayaan, dan pasar. Negara tidak boleh berhenti sebagai pengatur dan pelaksana program; ia harus memahami kehidupan yang hendak diperbaikinya. Angka produksi yang megah tak akan pernah cukup menjawab pertanyaan tentang martabat. Ukuran keberhasilan bukan berapa banyak program dijalankan, melainkan apakah petani hidup lebih layak, lebih aman, dan lebih berdaulat atas masa depannya.
Pasar dan Teknologi: Dua Wajah Kekuasaan
Pasar mempertemukan petani dengan konsumen; tanpanya, hasil panen kehilangan nilai. Tetapi pasar bukan padang yang netral. Ia ruang kuasa. Pihak bermodal besar, berinformasi lengkap, dan memiliki gudang serta jalur distribusi punya banyak pilihan. Petani yang harus segera menjual demi dapur rumah tangganya nyaris tak punya pilihan sama sekali. Ia memutuskan kapan menanam dan seberapa banyak, padahal harga saat panen tak pernah pasti. Ia memikul risiko produksi sekaligus risiko pasar. Panen melimpah pun bisa menjadi beban bila tak ada sistem pemasaran yang menyerapnya secara layak. Koperasi, kelembagaan ekonomi petani, pengolahan hasil, informasi harga, dan hubungan dagang yang lebih setara memang perlu diperkuat. Tujuannya bukan meniadakan pasar, melainkan memastikan pasar melayani kehidupan manusia, bukan sekadar menggemukkan mereka yang sudah kuat.
Teknologi pun demikian. Mekanisasi meringankan kerja, irigasi menata air, aplikasi menyajikan cuaca dan harga, kecerdasan buatan membaca data. Kita tak perlu menolaknya. Yang harus kita tanyakan: teknologi untuk siapa, dan untuk tujuan apa? Ia dapat membantu petani memutuskan, tetapi juga membuatnya bergantung pada sistem yang tak ia kuasai. Tidak semua petani punya akses dan keterampilan yang sama; mesin bisa terlalu mahal bagi usaha kecil; rekomendasi digital belum tentu memahami kondisi sosial dan ekologis tempat petani bekerja. FAO pun mengingatkan bahwa manfaat teknologi tak selalu terjangkau oleh petani kecil. Teknologi layak disebut kemajuan hanya bila memperkuat kendali petani atas pekerjaannya. Bila ia justru merenggutnya, modernisasi patut digugat.
Dari Objek Menjadi Subjek
Ketika tiga kekuatan itu bertemu di satu petak lahan, tekanannya jatuh pada satu orang. Negara menuntut produksi, pasar menuntut efisiensi, teknologi menawarkan cara baru yang berbiaya. Lalu siapa menanggung akibat bila panen gagal atau harga jatuh? Hampir selalu petani. Saat berhasil, keuntungan terbagi ke banyak tangan dalam rantai nilai; saat gagal, kehilangan pendapatan, utang, dan ketidakpastian hidup tinggal di rumah petani. Ini bukan berarti negara, pasar, dan teknologi harus dimusuhi. Yang patut dikritik adalah hubungan di antara ketiganya yang dibangun tanpa menjadikan kehidupan petani sebagai pertimbangan utama.
Dalam banyak pendekatan, petani hanyalah penerima: menerima bantuan, mengikuti pelatihan, menjalankan rekomendasi. Padahal petani memiliki pengetahuan tentang tanah, musim, air, dan tanaman yang ditempa pengalaman panjang. Pengetahuan itu mungkin tak tertulis dalam bahasa ilmiah atau sistem digital, tetapi ia nyata. Ia tidak kebal kritik, dan boleh diuji serta diperbarui, namun lewat dialog, bukan lewat anggapan bahwa petani selalu harus diberi tahu.
Sebab pengetahuan adalah kekuasaan. Pedagang besar menguasai informasi pasar, perusahaan bermodal menguasai teknologi digital, dan data produksi petani mengendap di sistem yang bukan miliknya. Bila dibiarkan, petani hanya menyediakan tenaga, lahan, dan hasil, sementara pengetahuan yang menentukan nilai pertanian dikuasai pihak lain. Ia tetap di pusat produksi, tetapi kian jauh dari pusat keputusan. Karena itu penguatan petani harus mencakup penguatan pengetahuan, melalui perguruan tinggi, penyuluh, pemerintah, dan organisasi petani yang menjadikan pengalaman petani sebagai sumber belajar. Kadang yang dibutuhkan bukan alat paling canggih, melainkan yang tepat, terjangkau, dan mudah dirawat; kadang bukan tambahan produksi, melainkan posisi tawar yang membuat hasil kerja berharga.
Penutup: Siapa yang Menggenggam Masa Depan?
Kita tak dapat membayangkan pertanian tanpa negara, pasar, dan teknologi. Tetapi ketiganya hanyalah sarana, bukan tujuan. Tujuannya adalah hidup yang lebih baik bagi mereka yang memberi kita makan. Maka negara tak cukup diukur dari capaian program, pasar dari keuntungan, dan teknologi dari kecanggihan. Semuanya harus diuji oleh satu pertanyaan sederhana yang tak boleh kita hindari: apakah hidup petani menjadi lebih baik?
Sebuah bangsa yang makan tiga kali sehari dari tangan petani, tetapi membiarkan tangan itu semakin lemah, sedang menipu dirinya sendiri. Kita boleh bangga pada lumbung yang penuh, namun malu bila yang mengisinya tetap berutang. Masa depan pertanian tidak ditentukan oleh seberapa kuat negara, seberapa luas pasar, atau seberapa canggih mesin, melainkan oleh cara semua kekuatan itu memperlakukan manusia yang menghasilkan pangan.
Petani bukan titik temu kepentingan orang lain. Ia manusia dengan hidup, pengetahuan, harapan, dan masa depan. Membangun pertanian pada akhirnya bukan soal mengubah cara petani bekerja, melainkan memastikan ia tetap memiliki tempat yang layak dalam dunia yang terus berubah. Pertanyaan ini bukan milik para pembuat kebijakan saja, tetapi milik kita semua yang setiap hari bergantung pada hasil kerja petani. Jangan sampai kita kenyang, sementara yang memberi makan kita tersingkir dari masa depannya sendiri.
*)Penulis adalah alumni Filsafat UGM, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Janabadra


Kampus 1 : Jl. Tentara Rakyat Mataram No. 55-57 Yogyakarta 55231

