Pertanian dan Krisis Makna Pembangunan

Dr. Untoro Hariadi, M.Si.
Oleh : Dr. Untoro Hariadi, M.Si. akademisi Universitas Janabadra Yogyakarta, peneliti, serta tokoh publik asal Yogyakarta.
Pembangunan selalu membawa janji tentang masa depan. Jalan dibangun agar kehidupan menjadi lebih mudah. Teknologi dikembangkan agar pekerjaan menjadi lebih cepat. Industri didorong agar ekonomi tumbuh. Pertanian dimodernisasi agar produksi meningkat. Desa dibangun agar masyarakat memperoleh kehidupan yang lebih baik. Di balik semua itu terdapat sebuah keyakinan yang hampir tidak pernah dipertanyakan: bahwa pembangunan pasti berarti kemajuan.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting justru jarang diajukan: kemajuan menuju ke mana? Pertanyaan ini menjadi penting ketika kita melihat pertanian. Selama puluhan tahun pertanian ditempatkan sebagai salah satu sektor yang harus terus ditingkatkan produktivitasnya. Petani didorong menggunakan teknologi baru, benih unggul, pupuk, mekanisasi, digitalisasi, kecerdasan buatan, dan berbagai bentuk inovasi. Pemerintah berbicara tentang ketahanan pangan, transformasi ekonomi, hilirisasi, peningkatan produktivitas, dan daya saing. Semua itu penting. Tetapi pertanian bukan hanya persoalan menghasilkan lebih banyak.
Pertanian adalah cara manusia mengatur hubungan dengan tanah, air, tanaman, hewan, makanan, keluarga, masyarakat, dan masa depan. Karena itu, ketika kita berbicara tentang pembangunan pertanian, sesungguhnya kita tidak hanya sedang berbicara tentang bagaimana meningkatkan produksi. Kita sedang berbicara tentang kehidupan macam apa yang ingin dibangun melalui pertanian. Di sinilah muncul apa yang dapat disebut sebagai krisis makna pembangunan.
Krisis itu bukan berarti pembangunan tidak menghasilkan perubahan. Sebaliknya, pembangunan telah menghasilkan perubahan yang sangat besar. Persoalannya adalah apakah seluruh perubahan tersebut selalu membawa kehidupan menuju keadaan yang lebih baik. Pembangunan dapat membuat produksi meningkat, tetapi apakah petani menjadi lebih sejahtera? Pembangunan dapat membuat teknologi semakin canggih, tetapi apakah petani menjadi semakin berdaya? Pembangunan dapat membuat desa semakin terhubung dengan pasar, tetapi apakah desa semakin memiliki masa depan? Pembangunan dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi apakah kehidupan manusia, alam, dan masyarakat menjadi lebih baik? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membawa kita keluar dari cara berpikir pembangunan yang hanya mengukur keberhasilan melalui angka.
Ketika Pembangunan Terlalu Sibuk Mengejar Pertumbuhan
Pembangunan modern sangat dekat dengan angka. Pertumbuhan ekonomi diukur melalui PDB. Produksi pertanian dihitung dalam ton. Produktivitas diukur dari hasil per hektare. Investasi dihitung dalam nilai rupiah. Ekspor dihitung dalam volume dan nilai. Kemiskinan dihitung dalam persentase. Semua ukuran tersebut diperlukan karena pembangunan membutuhkan informasi. Tetapi angka bukan kehidupan. Angka membantu kita memahami sebagian dari kenyataan, tetapi tidak pernah seluruh kenyataan.
Sebuah desa dapat menunjukkan peningkatan produksi pertanian, tetapi angka tersebut tidak dengan tersendiri menjelaskan apakah petani memiliki posisi tawar yang lebih baik. Produksi dapat meningkat, tetapi biaya produksi juga dapat meningkat. Nilai ekspor dapat naik, tetapi bagian yang diterima petani belum tentu meningkat dalam proporsi yang sama. Teknologi dapat masuk ke desa, tetapi tidak otomatis berarti pengetahuan petani bertambah. Bahkan ukuran kemiskinan pun perlu dibaca secara hati-hati. Data BPS menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan Indonesia pada Maret 2026 berada pada 8,07 persen, sedangkan kemiskinan perdesaan masih 10,67 persen. Angka tersebut memang menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat perdesaan masih menghadapi persoalan yang lebih berat dibandingkan masyarakat perkotaan.
Karena itu, pembangunan pertanian tidak cukup dinilai dari apakah produksi naik atau kemiskinan turun. Kita perlu bertanya lebih jauh: kehidupan petani berubah menjadi seperti apa? Pertanyaan ini penting karena pembangunan sering kali menggunakan indikator yang lebih mudah dihitung daripada kenyataan yang lebih sulit dirumuskan. Produksi lebih mudah dihitung daripada rasa aman. Pendapatan lebih mudah dihitung daripada martabat. Luas lahan lebih mudah dihitung daripada keterikatan manusia dengan tanah. Jumlah teknologi lebih mudah dihitung daripada kemampuan masyarakat menguasai teknologi tersebut. Di sinilah pembangunan menghadapi persoalan makna.
Jika pembangunan hanya dipahami sebagai pertumbuhan, maka semakin banyak produksi dianggap semakin baik. Jika pembangunan dipahami sebagai modernisasi, maka semakin modern teknologi dianggap semakin maju. Jika pembangunan dipahami sebagai industrialisasi, maka semakin besar investasi dianggap semakin berhasil. Padahal kehidupan tidak sesederhana itu.
Pertanian Bukan Sekadar Sektor Ekonomi
Pertanian sering disebut sebagai sektor ekonomi. Penyebutan tersebut tidak salah. Pertanian memang menghasilkan komoditas, menyediakan lapangan pekerjaan, membentuk pendapatan rumah tangga, menyediakan bahan pangan, dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Tetapi pertanian tidak berhenti sebagai sektor ekonomi.
Di dalam pertanian terdapat kehidupan keluarga. Ada pengetahuan yang diwariskan. Ada hubungan manusia dengan musim. Ada cara membaca tanah. Ada pengalaman menghadapi hama. Ada cara memilih benih. Ada pembagian kerja dalam keluarga. Ada hubungan antarpetani. Ada pasar desa. Ada tradisi. Ada gotong royong. Ada ingatan tentang gagal panen. Ada pengalaman tentang kekeringan dan banjir. Ada pengetahuan yang tidak pernah ditulis dalam buku, tetapi hidup dalam tindakan petani sehari-hari. Karena itu, ketika pembangunan memasuki pertanian, yang berubah bukan hanya cara menghasilkan komoditas. Yang berubah adalah cara manusia menjalani kehidupan. Inilah yang sering terlupakan.
Modernisasi pertanian dapat membawa traktor, mesin panen, aplikasi digital, sensor, drone, kecerdasan buatan, dan berbagai teknologi baru. Semua itu dapat memberikan manfaat besar. FAO bahkan melihat digitalisasi dan otomatisasi sebagai bagian penting dari transformasi sistem pertanian dan pangan. Namun akses terhadap teknologi dan kemampuan menggunakannya tidak merata. Petani kecil menghadapi persoalan biaya, infrastruktur, pengetahuan, keterampilan, dan akses terhadap sumber daya. Artinya, teknologi bukan sekadar alat. Teknologi selalu membawa cara baru dalam mengatur kehidupan.
Ketika petani menggunakan aplikasi untuk menentukan waktu tanam, misalnya, yang berubah bukan hanya alat bantu pengambilan keputusan. Sebagian proses pengambilan keputusan yang sebelumnya berasal dari pengalaman petani mulai berpindah kepada sistem digital. Ketika harga komoditas ditentukan berdasarkan informasi pasar digital, hubungan petani dengan pasar juga berubah. Ketika data lahan dikumpulkan dan dianalisis oleh sistem, pengetahuan tentang tanah mulai memiliki bentuk baru. Teknologi dapat memperkuat petani. Tetapi teknologi juga dapat membuat petani semakin bergantung apabila petani tidak memiliki kemampuan untuk memahami, mengendalikan, dan menentukan bagaimana teknologi digunakan. Karena itu, pertanyaan pembangunan tidak boleh berhenti pada “teknologi apa yang harus diberikan kepada petani?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “untuk kehidupan seperti apa teknologi itu digunakan?”
Dari Petani Sebagai Objek Menuju Petani Sebagai Subjek
Krisis makna pembangunan juga tampak dari cara kita memandang petani. Dalam banyak pendekatan pembangunan, petani ditempatkan sebagai penerima program. Ada program pemerintah, kemudian petani menjadi sasaran program. Ada teknologi baru, kemudian petani menjadi pengguna teknologi. Ada inovasi, kemudian petani menjadi penerima inovasi. Ada kebijakan, kemudian petani menjadi pelaksana kebijakan. Cara berpikir seperti ini secara tidak langsung menempatkan petani sebagai objek. Padahal petani bukan halaman kosong yang menunggu diisi oleh pengetahuan dari luar.
Petani telah memiliki pengetahuan. Pengetahuan itu lahir dari pengalaman panjang berhadapan dengan kehidupan. Petani mengetahui kapan tanah mulai siap ditanami. Petani mengetahui perubahan tertentu pada tanaman. Petani mengenali tanda-tanda alam. Petani mengetahui perilaku air. Petani memahami risiko yang tidak selalu masuk ke dalam model statistik. Pengetahuan tersebut tentu tidak selalu sempurna. Pengetahuan petani juga dapat berubah dan perlu diuji. Tetapi hal yang penting adalah mengakui bahwa petani memiliki kemampuan untuk berpikir, menilai, mencoba, memilih, dan memutuskan.
Di sinilah pembangunan seharusnya berubah dari transfer pengetahuan menjadi pertemuan pengetahuan. Pengetahuan ilmiah bertemu dengan pengalaman petani. Teknologi digital bertemu dengan pengetahuan lokal. Data bertemu dengan pengalaman. Universitas bertemu dengan desa. Pemerintah bertemu dengan masyarakat bukan hanya untuk menyampaikan program, tetapi untuk mendengarkan kenyataan kehidupan. Pembangunan yang demikian tidak memandang masyarakat sebagai penerima perubahan. Masyarakat menjadi pelaku perubahan.
Ketika Pembangunan Kehilangan Manusia
Krisis pembangunan paling serius terjadi ketika pembangunan menjadi lebih penting daripada manusia yang seharusnya dilayani. Kita dapat membangun bendungan, tetapi jika masyarakat kehilangan sumber kehidupannya, kita harus bertanya kembali tentang makna pembangunan. Kita dapat memperluas kawasan industri, tetapi jika lahan pertanian produktif semakin hilang dan petani kehilangan ruang hidupnya, pembangunan perlu dilihat secara lebih luas. Kita dapat meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi jika petani tetap berada dalam posisi ekonomi yang lemah, ukuran keberhasilan tersebut belum lengkap. Ini bukan berarti pembangunan harus dihentikan. Justru sebaliknya, pembangunan perlu dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih mendasar.
Pembangunan untuk siapa? Pertanyaan tersebut bukan pertanyaan baru. Namun dalam konteks pertanian, pertanyaan itu menjadi semakin penting karena transformasi pertanian menyentuh banyak kepentingan sekaligus: petani, konsumen, pemerintah, perusahaan, pasar, teknologi, industri pengolahan, lembaga keuangan, dan masyarakat luas. RPJMN 2025–2029 menempatkan ketahanan pangan dan hilirisasi sumber daya alam, termasuk pertanian, dalam agenda transformasi ekonomi nasional. Ini menunjukkan bahwa pertanian dipandang bukan hanya sebagai penyedia pangan, tetapi juga sebagai bagian dari transformasi ekonomi. Arah tersebut membuka peluang besar bagi pertanian. Tetapi peluang ekonomi tidak otomatis menjadi kesejahteraan petani.
Kajian Bappenas tentang komoditas strategis dan hilirisasi pertanian juga mencatat adanya persoalan struktural, antara lain produktivitas hulu, volatilitas harga, serta lemahnya integrasi petani dan UMKM ke dalam rantai nilai industri. Karena itu, hilirisasi tidak cukup dipahami sebagai proses mengubah komoditas menjadi produk industri. Ia harus mampu menghubungkan petani dengan nilai tambah yang dihasilkan. Di sini kita kembali kepada persoalan makna. Jika petani hanya memasok bahan baku sementara nilai terbesar berada di bagian hilir, maka pertanian memang mengalami transformasi ekonomi, tetapi belum tentu mengalami transformasi kehidupan.
Pembangunan dan Persoalan Keadilan
Pembangunan selalu menghasilkan perubahan distribusi. Ada yang memperoleh manfaat lebih cepat. Ada yang memperoleh manfaat lebih besar. Ada yang harus menanggung biaya perubahan. Ada yang bahkan tidak memiliki kemampuan untuk ikut menentukan arah perubahan. Karena itu pembangunan pertanian selalu mengandung persoalan keadilan.
FAO dalam The State of Food and Agriculture 2024 menunjukkan bahwa sistem pangan menghasilkan manfaat besar bagi masyarakat, tetapi juga menimbulkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang tidak seluruhnya tercermin dalam harga pasar. Bahkan biaya tersembunyi sistem pangan secara global diperkirakan mencapai sekitar 10 persen dari PDB dunia. FAO karena itu mendorong pendekatan yang melihat biaya dan manfaat sistem pangan secara lebih menyeluruh. Gagasan ini penting bagi pertanian Indonesia. Harga beras, jagung, kopi, sawit, sayuran, dan berbagai komoditas lainnya tidak pernah hanya berbicara tentang angka transaksi. Di belakangnya ada tanah, air, tenaga kerja, energi, transportasi, pengetahuan, risiko, dan lingkungan.
Harga yang murah bagi konsumen belum tentu murah bagi petani. Produksi yang tinggi belum tentu berarti kesejahteraan yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi belum tentu berarti keadilan ekonomi. Karena itu pembangunan harus berani melihat biaya yang selama ini tersembunyi. Siapa yang memperoleh manfaat? Siapa yang menanggung risiko? Siapa yang memiliki tanah? Siapa yang menguasai data? Siapa yang menentukan harga? Siapa yang memiliki teknologi? Siapa yang mengambil keputusan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita kepada pengertian pembangunan yang lebih substantif.
Desa Tidak Boleh Hanya Menjadi Tempat Produksi
Krisis makna pembangunan juga tampak ketika desa hanya dipandang sebagai lokasi produksi. Desa menghasilkan pangan. Desa menyediakan tenaga kerja. Desa menyediakan bahan baku industri. Desa menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan ekonomi. Tetapi desa bukan hanya ruang produksi. Desa adalah ruang kehidupan.
Di dalam desa terdapat rumah, keluarga, kebudayaan, ingatan, hubungan sosial, pengetahuan, dan identitas. Ketika anak-anak muda meninggalkan desa karena tidak melihat masa depan di sana, persoalannya bukan sekadar perubahan tenaga kerja. Ada pertanyaan yang lebih dalam: mengapa kehidupan di desa tidak lagi dianggap mampu menawarkan masa depan? Transformasi perdesaan yang baik seharusnya tidak memaksa masyarakat meninggalkan desa agar memperoleh kehidupan yang lebih baik. FAO menempatkan transformasi perdesaan yang inklusif sebagai proses yang memungkinkan petani kecil, perempuan, dan generasi muda memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi dan memiliki kesempatan hidup di wilayahnya sendiri. Ini berarti pembangunan desa harus menciptakan masa depan, bukan sekadar menyediakan program.
Pertanian menjadi penting dalam konteks ini. Jika pertanian mampu menjadi ruang pengetahuan, ruang ekonomi, ruang inovasi, dan ruang kebudayaan, maka desa tidak perlu dilihat sebagai masa lalu yang harus ditinggalkan. Desa dapat menjadi tempat lahirnya masa depan.
Mengembalikan Kehidupan Sebagai Ukuran Pembangunan
Lalu, bagaimana kita memahami pembangunan pertanian? Mungkin kita perlu kembali kepada sesuatu yang paling sederhana: kehidupan. Pembangunan pada akhirnya bukan tentang jalan, gedung, mesin, aplikasi, investasi, produksi, atau pertumbuhan. Semua itu adalah sarana. Tujuan akhirnya adalah kehidupan manusia yang lebih baik dalam hubungan yang lebih baik dengan alam dan masyarakat.
Dengan cara pandang ini, keberhasilan pembangunan pertanian perlu dibaca melalui beberapa pertanyaan mendasar: Apakah petani lebih berdaya? Apakah keluarga petani memiliki kehidupan yang lebih aman? Apakah tanah tetap mampu menopang kehidupan? Apakah air tetap tersedia? Apakah generasi muda melihat pertanian sebagai masa depan? Apakah pengetahuan petani berkembang tanpa kehilangan akar kehidupannya? Apakah teknologi memperkuat kemampuan manusia untuk menentukan hidupnya? Apakah nilai tambah pertanian kembali kepada masyarakat yang menghasilkan? Apakah desa tetap menjadi ruang kehidupan yang layak?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak semuanya mudah diukur. Tetapi justru karena sulit diukur, bukan berarti tidak penting. Pembangunan yang hanya mengukur apa yang mudah dihitung akan kehilangan bagian kehidupan yang paling penting tetapi sulit dihitung.
Dari Pembangunan Menuju Kehidupan yang Dibangun
Krisis makna pembangunan bukan alasan untuk menolak pembangunan. Krisis ini justru merupakan kesempatan untuk memperbaiki pengertian kita tentang pembangunan. Kita perlu membedakan antara membangun pertanian dan membangun kehidupan melalui pertanian. Membangun pertanian dapat berarti meningkatkan produksi, memperluas pasar, menghadirkan teknologi, membangun infrastruktur, dan memperkuat industri. Membangun kehidupan melalui pertanian berarti memastikan bahwa seluruh perubahan tersebut memperkuat kemampuan manusia untuk hidup secara layak, mandiri, bermartabat, dan berkelanjutan. Perbedaan ini tampak kecil, tetapi sebenarnya sangat mendasar.
Jika yang menjadi pusat adalah pertanian sebagai sektor, maka petani mudah menjadi alat untuk mencapai target produksi. Jika yang menjadi pusat adalah kehidupan, maka pertanian menjadi jalan untuk menata hubungan manusia dengan tanah, pangan, alam, teknologi, pasar, dan masa depan. Di sinilah pembangunan pertanian menemukan kembali maknanya. Pertanian tidak membutuhkan pembangunan yang hanya membuatnya semakin besar. Pertanian membutuhkan pembangunan yang membuat kehidupan di dalamnya semakin baik. Karena itu, ukuran kemajuan pertanian tidak seharusnya hanya ditanyakan melalui pertanyaan “berapa banyak yang kita hasilkan?”, tetapi juga melalui pertanyaan “kehidupan seperti apa yang kita hasilkan?” Pertanyaan kedua inilah yang selama ini sering tertinggal. Padahal di sanalah makna pembangunan sesungguhnya berada.
Pembangunan yang kehilangan kehidupan akan menjadi sekadar perubahan. Teknologi tanpa manusia akan menjadi sekadar sistem. Pertumbuhan tanpa keadilan akan menjadi sekadar angka. Modernisasi tanpa kebudayaan akan menjadi sekadar pergantian alat. Pertanian mengajarkan sesuatu yang sederhana: kehidupan tidak tumbuh hanya karena kita memaksanya untuk tumbuh. Kehidupan tumbuh karena ada tanah yang dirawat, air yang dijaga, pengetahuan yang diwariskan, kerja yang dihargai, hubungan yang dipelihara, dan masa depan yang dipercaya.
Maka pembangunan pertanian seharusnya bukan sekadar usaha membuat pertanian lebih produktif. Ia harus menjadi usaha membuat kehidupan lebih hidup. Dan mungkin, di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, inilah saatnya pembangunan Indonesia kembali bertanya kepada dirinya sendiri: bukan hanya seberapa jauh kita telah maju, tetapi untuk kehidupan macam apa kita sebenarnya sedang membangun.
*)Penulis adalah alumni Filsafat UGM, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Janabadra


Kampus 1 : Jl. Tentara Rakyat Mataram No. 55-57 Yogyakarta 55231

