info@janabadra.ac.id    +62 858-4277-0576

Drainase : Meneropong Sistem Pengelolaan Air Berbasis Kearifan Lokal

Drainase adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam pengelolaan air, terutama di perkotaan yang sering mengalami masalah banjir. Drainase tradisional adalah sistem pengelolaan air yang telah ada sejak zaman dahulu, diterapkan dalam berbagai budaya di seluruh dunia. Sistem ini memanfaatkan prinsip-prinsip dan teknik sederhana yang didasarkan pada kearifan lokal untuk mengalirkan air hujan, mengurangi risiko banjir, dan memaksimalkan manfaat dari sumber daya air yang ada.

Prinsip-Prinsip Drainase Tradisional

  1. Penggunaan Lahan Terbuka: Drainase tradisional sering kali mengintegrasikan penggunaan lahan terbuka seperti taman, halaman, dan bahkan pekarangan rumah. Lahan terbuka ini berfungsi sebagai reservoir alami untuk menampung air hujan, mengurangi aliran air yang menuju ke saluran utama.
  2. Permeabilitas Tanah: Sistem drainase tradisional mendukung penggunaan tanah yang permeabel, seperti tanah liat atau pasir, untuk meningkatkan penyerapan air hujan ke dalam tanah. Ini mengurangi volume air yang mengalir ke saluran drainase.
  3. Saluran Air Alami: Drainase tradisional sering menggunakan saluran air alami, seperti sungai kecil atau parit, untuk mengalirkan air hujan. Saluran ini dapat diatur sedemikian rupa untuk mengendalikan aliran air.
  4. Penggunaan Material Lokal: Bahan-bahan lokal, seperti batu, bambu, atau kayu, digunakan untuk membangun saluran air dan sistem pengaliran lainnya. Ini menciptakan ekonomi lokal dan mengurangi biaya konstruksi.
  5. Penanaman Vegetasi: Vegetasi seperti tanaman air dan pohon-pohonan sering ditanam di sekitar saluran air untuk mengurangi erosi tanah dan memperbaiki kualitas air.

Studi Kasus Drainase Tradisional

Salah satu studi kasus yang menarik adalah sistem pengelolaan air tradisional di Bali, Indonesia. Di sana, subak adalah sistem irigasi tradisional yang telah digunakan selama berabad-abad. Subak mengatur tata air dan penggunaan lahan untuk mengairi sawah dan ladang. Prinsip-prinsip subak, termasuk koordinasi komunal dan penggunaan lahan terbuka, telah membantu menghindari kekeringan dan banjir di daerah tersebut.

Jurnal Rujukan

  1. “Traditional Ecological Knowledge and Practice for Managing Rainwater in Arid and Semi-Arid Lands of Kenya” oleh Shisanya, C. A., et al. (2007). Jurnal ini membahas penggunaan pengetahuan ekologi tradisional dalam mengelola air hujan di daerah kering Kenya. Penelitian ini menggali bagaimana masyarakat lokal secara tradisional mengelola air hujan untuk keperluan pertanian dan domestik.
  2. “The Role of Traditional Drainage Systems in Flood Mitigation in Nigeria” oleh Oyebande, L., et al. (2015). Jurnal ini menjelaskan kontribusi sistem drainase tradisional dalam mengurangi risiko banjir di Nigeria. Penulis memeriksa efektivitas dan keberlanjutan sistem ini dalam menghadapi perubahan iklim.
  3. “Subak, Traditional Ecological Knowledge System in Bali, Indonesia” oleh Suryani, A. (2010). Artikel ini menjelaskan bagaimana sistem subak di Bali, Indonesia, digunakan sebagai contoh sukses dari pengelolaan air tradisional. Penulis memaparkan bagaimana subak menggabungkan pengetahuan lokal dan praktik pengelolaan air yang berkelanjutan.

Related Posts

We are using cookies to give you the best experience. You can find out more about which cookies we are using or switch them off in privacy settings.
AcceptPrivacy Settings

GDPR