Silaturahmi ke Komandan Korem 072 Pamungkas

Menerima kunjungan silaturahmi jajaran pimpinan Universitas Janabadra (rektor, wakil rektor, humas, BAAK dan Wakil Presiden Mahasiswa) serta Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Janabadra hari ini (29/9) di Korem 072 Pamungkas, Brigjen TNI Afianto banyak bercerita seraya menyarankan perlunya digali sumber sumber referensi seorang Tohoh Pujangga Jenanabadra yang kini namanya dipakai untuk memberikan nama sebuah perguruan tinggi Universitas Janabadra . Di luar warga internal kampus Janabadra, belum banyak yang tahu siapa tokoh tersebut? Maka perlu dikaji lebih jauh nilai nilai luhur apa saja yang diajarkan beliau? Seorang tokoh pastilah memiliki nilai nilai luhur yang diajarkan dimasa hidupnya untuk kemaslahatan umat manusia. Demikian ucap Brigjen Afianto menyambut pembicaraan dan perkenalan dari jajaran Universitas Janabadra sebagai kampus kebangsaan yang berasaskan Pancasila dan UUD 45 kepada Jajaran Korem 072 Pamungkas.

Menyambung kisah tentang seorang tokoh dan kebudayaan (red: siapapun itu), kita harus menjalankan kegiatan dan tugas sesuai dengan fungsi dan peran kita masing masing, dan itu tidak akan terlepas dari unsur budaya, apalagi kita yang hidup dan tinggal di Jogya yang kaya akan nilai nilai luhur kebudayaan. Banyak kajian dan pengalaman empiris telah menunjukkan bahwa beragam budaya yang ada di nusantara ini saling berkaitan antar satu dengan yang lain, ragam kebudayaan di nusantara ini merupakan sebuah kebhinekaan yang memiliki satu kesatuan, itulah gambaran Bhineka Tunggal Ika .

Lebih lanjut digambarkan oleh Brigjen Afianto dalam kisah pewayangan tentang Pandawa Limo . Adalah Yudhistira satu satunya yang masuk nirwana, sementara empat lainnya tidak bisa masuk nirwana. Mengapa? karena Yudhistira memeiliki ilmu bayi , yaitu gambaran seorang yang suci yang tidak bisa berucap dengan kata kata kotor, tidak berbuat dosa, dan selalu berkata yang baik baik. Itulah gambaran sila pertama dari Pancasila yaitu ketuhanan .

Sementara Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa masing masing memiliki sifat sifat kepribadian yang kurang baik. Dicontohkan, Nakula yang berarti Nah Kulo (red: inilah saya) menggambarkan seorang tokoh yang memiliki ego sangat besar, selalu menunjuk kepada kelebihan pada dirinya. Dia memiliki ilmu (red: kemampuan) besar tetapi tidak digunakan dan diberikan untuk kepentingan orang lain. Oleh karena sifatnya itulah, Nakula tidak bisa masuk nirwana sebagaimana saudaranya Yudhistira. Untuk itu diperlukan sebuah keteladanan bagi seluruh warga supaya bangsa ini tidak jatuh ke dalam kesalahan seperti yang dilakukan Nakula. Inilah gambaran sila keempat Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Segala sesuatu persoalan jika kita bawa duduk bersama, kita bicarakan bersama, kita ambil solusi dan kebijakan untuk kepentingan bersama, niscaya akan dapat diselesaikan persoalan itu. Barang siapa pemimpin manapun ketika mengambil sebuah kebijakan / keputusan dengan jalan musyawarah mufakat, pastilah tidak ada yang merasa dirugikan dan hasil akan baik adanya.

Dalam dunia pewayanghan burung garuda digambarkan sebagai Jatayu yang dengan segala daya berusaha membela tetap bersatunya raman dan rahim supaya tidak dipisahkan oleh kedengkian Rahwana. Dalam lambang Garuda Pancasila, terdapat lima sila Pancasila yang terbingkai sebagai satu kesatuan, sementara kakinya yang kokoh memegang kuat semboyan Bhineka Tunggal Ika. Lambang tersebut memberikan gambaran tidak boleh siapapun di NKRI ini yang akan dibiarkan mencoba mengganti ideologi Pancasila sebagai Dasar Negara, sedangkan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan untuk menyatukan asyarakat Indonesia yang berbeda beda (adat, budaya, ras, maupun keyakinan) menjadi satu kedaulatan negara Indonesia, tidak boleh ada diskriminasi.

Bertepatan dengan rangkaian Dies UJB ke 63 yang sebentar lagi diperingati, lebih lanjut pesan Brigjen Afianto untuk mendoakan beliau tokoh yang kini diabadikan namanya sebagai nama perguruan tinggi serta doakan pula para sesepuh yang telah merintis berdirinya Universitas Janabadra. Soal agama (iman dan keyakinan) tancapkan di hati, soal Pancasila sebagai Dasar Negara tempelkan di dada demikian ucap Afianto mengakhiri pertemuan silaturahmi dari jajaran pimpinan Universitas Janabadra hari ini.

Penulis

Tresno / Humas dan Kerjasama UJB