...

Berita

Universitas Janabadra

Fh Ujb – Bpip Selenggarakan Webinar “pancasila Dalam Tindakan Peran Mahasiswa Dalam Masa Pandemi Covid-19”


FH UJB – BPIP selenggarakan webinar “PANCASILA DALAM TINDAKAN PERAN MAHASISWA DALAM MASA PANDEMI COVID-19”

Kerjasama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Fakultas Hukum Universitas Janabadra (FH-UJB) menyelenggarakan webinar dengan tema “PANCASILA DALAM TINDAKAN PERAN MAHASISWA DALAM MASA PANDEMI COVID-19”. Webinar diselenggarakan Kamis (4/11) secara blended, sebagian pembicara dan peserta hadir onsite di Ruang I.4 Fakultas Hukum yang berada di Kampus Timoho dan peserta lain mengikuti secara daring. Tidak kurang 200 peserta ikut bergabung dalam webinar tersebut yang terselenggara mulai dari pukul 09:00 sampai 12:30 WIB. Webinar menghadirkan pembicara, keyone speech DR. Rima Agristina SH., SE., MM Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi BPIP dan Edi Subowo, SH., MH Direktur Evaluasi BPIP serta empat narasumber yaitu Dr. Lia Kian, MM Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Dr. Yanto, SH., MH Direktur Pidana Mahkamah Agung, Sunarya Raharja SH., M.Hum dan JS Murdomo SH., M.Hum keduanya Dosen Fakultas Hukum Universitas Janabadra dengan moderator Murti Ayu Hapsari, SH., M.H. Dosen Fakultas Hukum Universitas Janabadra.

Dr. Sudiyana, SH., M.Hum Dekan Fakultas Hukum Universitas Janabadra dalam sambutannya menyampaikan, maksud webinar ini adalah mengaungkan kembali nilai-nilai Pancasila pasca P4 dihapuskan. Sejak saat itu kita lebih banyak sekedar mengenang Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara tidak berusaha mendorong aktualisasinya di dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi saat ini demikian pesat hampir semua pengaruh budaya luar masuk tanpa kita bisa membendung, jika hal ini terus berlangsung tanpa ada upaya untuk memfilter maka dikawatirkan bangsa dan negara kita akan terdampak dalam wujud kehidupan social budaya masyarakat kita jauh dari nilai-nilai pancasila. Untuk itu pentingnya lembaga seperti BPIP menjaga tetap tegaknya nilai-nilai Pancasila di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Sinergisitas dengan BPIP, Universitas Janabadra, telah berpartisopasi dalam menggaungkan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat pada era saat ini. Terlebih pada masa pandemic covid-19 ini banyak masyarakat mengalami kesulitan bahkan lebih dari 143ribu orang menjadi korban meninggal belum lagi yang terdampak secara social ekonomi. Ada banyak nilai-nilai dapat diimplementasikan dalam situasi seperti saat pandemic ini, bukan justru sebaliknya menjauhkan diri ketika ada warga yang terpapar dan menderita sakit karena covid 19, mengambil jenasah dengan paksa, dan lain sebagainya.

Dalam sambutannya, Edi Subowo, SH., MH Direktur Evaluasi BPIP kembali memperkenalkan bahwa Lembaga BPIP adalah suatu lembaga yang dibentuk berada dibawah dan bertangungjawab langsung kepada presiden, sebagai bentuk revitalisai dari Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) yang dibentuk tahun 2017. Dilihat usianya, BPIP terhitung masih relatif muda (belum balita) maka mohon masukan-masukannya dari berbagai pihak untuk lembaga ini. Selama dua tahun ini seluruh bangsa dan masyarakat dunia tidak terlepas bangsa kita Indonesia mendapat ujian pandemi covid-19 yang dampaknya luar biasa ini. Melalui pandemi covid-19 kita semua disadarkan untuk kembali mengaktualisasi nilai-nilai Pancasila di tengah-tengah kehidupan masyarakat, bagaimana seluruh warga negara dituntut untuk bersama-sama pemerintah bahu-membahu gotong royong menangani pandemi ini tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain.

Dr. Ir. Edy Sriyono, MT selaku rektor menyampaikan bahwa Universitas Janabadra didirikan tahun 1958 oleh para pendiri yang memiliki semangat nasionalisme. Universitas Janabadra memiliki asas nasionalisme, saat ini memiliki 4 fakultas dengan 11 program studi yang tersebar di 4 kampus yaitu Kampus Pingit (Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Teknik serta Pertanian), Kampus Timoho (Fakultas Hukum), Kampus Kulon Progo dan Kampus Trini. Sesuai tema webinar ini, bagaimana nilai-nilai Pancasila harus tetap dipahami dan diaktualisasikan oleh setiap warga negara termasuk para mahasiswa sebagai generasi muda. Generasi milenial menjadi obyek utama pembangunan SDM karena generasi milenial merupakan motor Indonesia emas 2045. Tantangan kita bersama adalah bagaimana nilai-nilai Pancasila tetap dihidupi oleh seluruh generasi muda termasuk dalam menghadapi dan menanggulangi pandemi Covid-19 ini. Banyak kearifan lokal dapat digali untuk diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari yang sekaligus menjadi jati diri bangsa ini terutama dalam membangun masa depan generasi muda serta masa depan bangsa dan negara.

Mengawali keynote speech, DR. Rima Agristina SH., SE., MM berbicara soal kebhinekaan. Tidaklah mungkin Indonesia yang memiliki aneka keragaman untuk dijadikan seragam. Karena dari kebhinekaan itulah justru menjadi alat pemersatu bangsa, dari berbagai latar belakang suku, bahasa, budaya yang beraneka ragam dari Sabang sampai Merauke bersatu menjadi satu yaitu Bangsa Indonesia. Selanjutnya, soal nalai-nilai Pancasila harus ada dalam setiap sendi kehidupan warga negara dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bagaimana nilai-nilai Pancasila sebagai kekuatan pemersatu bangsa, bagaimana Pancasila menjadi falsafah dan sebagai dasar negara, kita semua warga negara memiliki tanggungjawab untuk menjaga tetap tegaknya Pancasila di bumi pertiwi ini. Lebih lanjut bicara soal ketangguhan nasional dan ketahanan nasional. Apa saja unsur kemampuan dan ketangguhan bangsa kita? Dikatakan bahwa kita memiliki Trigatra dan Pancagatra. Trigatra meliputi: Geografi, SDM dan Kekayaan Alam.  Pancagatra meliputi: Ideologi, Politik, Ekonomi, Hamkam dan Sosial Budaya, yang terhimpun menjadi Astagatra. Mengakhiri keynote, Rima Agristina menyampaikan lima tantangan yang harus dihadapi Bangsa Indonesia yaitu: Penyimpangan Paham Ideologi, Tantangan Radikal, Korupsi, Penyalahgunaan Narkoba serta Kerawanan Bencana Alam dan Pandemi Covid 19. Kelima tantangan tersebut harus selalu diwaspadahi dan dihindari oleh setiap warga negara, dan ketika telah terjadi bagaimana harus dihadapi dan diselesaikan secara bijaksana.

Selesai sesi keynote speech, webinar dilanjutkan paparan oleh para narasumber. Dr. Lia Kian, MM Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP dalam paparannya menyampaikan ilustrasi contoh-contoh aktualisasi nilai-nilai pancasila di masa pandemi. Terhadap sila pertama, bahwasannya Pandemi itu ada, percaya atau tidak terhadap virus corona terbukti bahwa semua org tidak ada mau terpapar virus corona. Sila kedua, sekalipun 99 persen penduduk sudah divaksin namun jika ada satu orang terkena virus conona dapat menyebar ke banyak orang. Artinya kita tetap harus menjaga teman saudara dan keluarga supaya tidak terpapar, itulah perwujudan sila kedua. Sila ketiga, bagaimana masyarakat bersama pemerintah bersama-sama bergotong royong mengatasi pandemi, dan alhamdulillah saat ini kasus penyebaran sudah mulai melandai. Bagimana terhadap sila keempat? Kita bisa melihat bagaimana seluruh pemimpin bangsa dan negara ini bersatu mengatasi pandemi, bahu-membahu seluruh lembaga pemerintah dan ormas bersama seluruh lapisan masyarakat melaksanakan vaksinasi sehingga hasilnya vaksin cepat dan merata ke seluruh lapisan masyarakat. Akan berbanding terbalik ketika yang diupayakan pemerintah tidak selaras dengan sikap dan tanggapan masyarakat. Begitu pula ketika para pemimpin / kepala daerah (pusat dan daerah) berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi dengan baik. Lebih lanjut Lia Kian menyinggung bagaimana peran mahasiswa dalam penanganan pandemi ini? Hari ini kita diuji bagaimana kesabaran kita untuk berkegiatan kuliah dengan pembatasan segala macam. Nilai-nilai apa yang bisa kita petik hikmahnya dari pandemi ini? Dicontohkan bagaimana seorang dosen saat mengajar secara daring, bagaimana seorang mahasiswa mengikuti perkuliahan secara daring? Apakah dosen sudah berpakaian selayaknya, tidakkah terlihat di layar mengenakan baju batik sementara bawahannya celana pendek atau sarung? Begitu pula mahasiswa, apakah mahasiswa mengikuti kuliah secara penuh, tidakah mahasiswa join di kelas tatap maya kemudian ditinggal kemana-mana? Kita semua termasuk para dosen dan mahasiswa dituntut untuk mandiri, sabar, jujur, profesional, dan bertanggung jawab.

Dr. Yanto, SH., MH dalam paparannya menyampaikan bahwa pandemi ada itu sudah kehendak Tuhan YME, terhadap sila pertama kita dituntut toleransi, tidak boleh membeda-bedakan golongan dan agama ketika melakukan penanganan pandemi. Tidak boleh terjadi itu! Ketika BP7 dihapus, kita sering mendengar nilai-nilai Pancasila menjadi bahan candaan yang tidak sepatutnya, sangat memprihatinkan. Inilah salah satu tugas yang diemban oleh BPIP sekarang supaya nilai-nilai Pancasila dijiwai dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh WNI. Masa pandemi ini, banyak warga masyarakat mengalami kesulitan baik mereka yang langsung terpapar dan menderita sakit maupun mereka yang terdampak secara social ekonomi. Bagaimana sikap kita sebagai sesama warga bangsa untuk melayani mereka yang membutuhkan, bukan justru sebaliknya membuat masyarakat menderita. Lebih lanjut Yanto demikian sapa alumni FH-UJB yag saat ini menjabat Direktur Pidana Mahkamah Agung menunjukkan, banyak nama-nama “pejabat” yang notabene sebelumnya sebagai akademisi yang memiliki prestasi gemilang di kampus tetapi ketika berada di pusaran kekuasaan tersangkut kasus korupsi. Kenapa itu bisa terjadi? Tidak lain karena mereka itu tidak bisa menjiwai dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.

Sunarya Raharja SH., M.Hum dalam paparannya menyampaikan bahwa pada awal tahun 2020 virus corona masuk Indonesia dan masih ada hingga saat ini dan entah sampai kapan kita tidak tahu. Saat ini sebagian besar wilayah / daerah termasuk Yogyakarta telah berada di Level 2 PPKM yang sebelumnya berada di level 3-4. Saat ini Jogya telah cukup ramai dikunjungi wisatawan dan kasuspun kembali merangkak naik. Klaster yang terjadi saat ini di Yogyakarta adalah klaster taksiah, hajatan dan terakhir klaster pendidikan. Kita tetap harus waspada. Lebih lanjut Naryo menyampaikan bahwa pandemi berdampak sangat luas hingga ke semua sektor dan tidak terkecuali sektor pendidikan pun terdampak. Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 mengeluarkan sebuah kebijakan bagaimana proses pendidikan harus dilakukan secara daring atau blanded. Sebuah perubahan yang luar biasa, guru-dosen hingga siswa-mahasiswa terpaksa belajar dan menggunakan platform kuliah / sekolah daring. Tatap maya ke daring merupakan perubahan besar dalam tatakelola pembelajaran. Sebelumnya dengan tatap muka di kelas, sekarang harus bergeser dan diperlukan inovasi serta kreatifitas pembelajaran baik oleh guru dan dosen. Menyinggung soal peran mahasiswa, dikatakan oleh Naryo yang saat ini menjabat sebagai Wakil dekan II FH-UJB bahwa mahasiswa Universitas Janabadra telah berperan dalam program vaksinasi, inilah wujud nyata aktualisasi nilai-nilai Pancasila oleh para mahasiswa dalam penanganan pandemi Covid-19. Pandemi pasti akan berakhir, dan dibalik peristiwa ini pasti ada hikmah yang bisa dipetik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

JS Murdomo SH., M.Hum, dalam paparannya menyampaikan bahwa aktualisasi Pancasila merupakan penjabaran nilai-nilai Pancasila dalam bentuk norma-norma yang dapat dijumpai dalam bentuk norma hukum, kenegaraan dan norma-norma moral. Pengaktualisasinya dalam bentuk tingkah laku semua warga negara dalam kehidupan bermasyarakat serta dalam berbangsa dan bernegara. Aktualisasi nilai-nilai Pancasila dapat diwujudkan dalam berbagai aktivitas sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari seperti: mentaati rambu lalu lintas, menjaga kebersihan lingkungan, tidak merusak fasilitas umum, mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan, toleransi, dan menjauhi korupsi. Pada masa pandemi covid-19 mahasiswa Universitas Janabadra sebagai generasi muda sudah mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dengan terlibat aktif membantu pemerintah bekerjasama dengan lembaga lain yaitu Kopassus Grup II mengadakan vaksinasi kepada masyarakat. Mahasiswa harus selalu membiasakan diri bergaul dan berintgeraksi dalam perbedaan dan keberagaman sehingga semakin memahami kehidupan bangsa yang sangat majemuk baik suku, agama, bahasa, dan budaya yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia. Sebaliknya mahasiswa yang tidak mau menyadari dan tidak berani membiasakan diri dalam perbedaan dan keberagaman berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang intoleran, kepribadian yang justru mengancam nilai-nilai beberagaman dalam Pancasila, demikian papar Murdomo yang hingga saat ini aktif memberikan kesaksian ahli dalam berbagai kasus persidangan.

Mamasuki forum tanya jawab, sejumlah pertanyaan disampaikan oleh para peserta baik yang hadir onsite maupun peserta yang join secara daring. Secara bergantian para narasumber menjawab dan menanggapi satu per satu pertanyaan yang ditujukan kepada masing-masing narasumber. Dan pada akhir sesi diskusi, Murti Ayu Hapsari SH., MH. selaku moderator menutup dengan beberapa poin kesimpulan: a.l Mahasiswa merupakan rool model bagaimana aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus digaungkan kembali, Pemahaman nilai-nilai Pancasila sebatas sampai tataran konsep akan sulit dalam penerapannya, namun dengan pemahaman sampai pada tataran penerapan seluruh warga negara termasuk mahasiswa dapat mewujudkan secara riil nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu, Pandemi perlu disikapi secara positif, dengan kerja sama seluruh pihak serta pentingnya perhatian pada sisi-sisi humanis dalam pengendalian dan penanganan di lapangan.

 

Penulis

Tresno S / Humas dan Kerjasama UJB

 

 

Dibaca: 495x

Info Akademik

PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA VIDEO KREATIF  “AYO KULIAH DI UJB”  UNIVERSITAS JAN [..]

Selengkapnya

by Admin | 7 Aug 2021

Dengan adanya mengurangi dampak penularan COVID-19, maka Universitas Janabadra telah memberikan laya [..]

Selengkapnya

by Admin | 16 Nov 2020

PERSYARATAN KHUSUS BERKAS YANG DILENGKAPI CALON YANG LULUS TAHUN 2020 Formulir pendaftaran [..]

Selengkapnya

by Admin | 12 Aug 2020